19/04/2017

Bukti Kemuliaan-Nya

 

Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya. - Mazmur 19:1

 

“Tuhan, izinkan aku memandang keindahan-Mu,” pinta saya. Jawaban-Nya jelas: “Aku telah menunjukkannya padamu. Aku menunjukkan kelembut-an-Ku padamu setiap saat, tetapi kau tidak mengenalinya karena kau terlalu curiga terhadap-Ku. Aku mencurahkan kebaikan-Ku, namun kau sangka itu semua hanya peristiwa acak atau berkat-berkat yang lebih kecil dari yang seharusnya. Aku mengungkapkan kemurahan-Ku kepadamu, namun rasa takutmu membuatmu berpikir bahwa setiap langkah ke depan merupakan jebakan menuju kegagalan atau kesulitan. Aku menyatakan isi hati-Ku, tapi kau tidak tahu cara memahaminya.”

 

Kita menjumpai Allah dan mendengar suara-Nya lebih dari yang kita pikirkan. Seluruh alam ciptaan-Nya mencurahkan pengetahuan tentang Dia, namun kita bertanya-tanya apa kita mendengarnya dengan benar. Allah menjamin bahwa Dia Mahakuasa atas segala kondisi kita, namun kita terheran-heran akan peristiwa “kebetulan.” Dia memenuhi hidup kita dengan sukacita, namun kita menggenggamnya erat-erat karena takut kehilangan sukacita itu. Rasa tidak aman dan keraguan kita membutakan kita terhadap keindahan yang terus menerus Allah nyatakan.

 

Allah telah merancang alam semesta, kondisi kita, hubungan kita, bahkan hati kita sendiri untuk mencerminkan diri-Nya dan menyatakan kebaikan serta keindahan-Nya. Memang, kita harus mampu memandang di balik hal-hal yang tidak indah untuk sanggup melihat Dia, namun penyingkapan itu ada di sana. Masalahnya, kita terlanjur melatih diri untuk memahami hal-hal secara biasa, acak, dan tidak istimewa. Panca indera kita telah menjadi tumpul terhadap sapaan Tuhan.

 

Sadarkanlah panca indera Anda. Bukalah mata Anda untuk melihat setiap ge-rak ilahi. Jika Anda berpikir Dia mungkin sedang berbicara pada Anda, kemungkinan memang demikian adanya. Jika Anda memohon untuk memandang keindahan dan kemuliaan-Nya, bukti keindahan dan kemuliaan yang mengikutinya bukanlah kebetulan; itu datang dari Dia. Terimalah karunia pengingat-Nya bahwa Dia ada.

 


 

Tuhan, aku memilih untuk melihat tanda-tanda hati-Mu sebagaimana ada-nya—bukan mengabaikannya atau menganggapnya sekadar kebetulan. Aku menerima cara alam semesta, kondisi pribadiku, relasiku, dan bahkan hatiku sendiri berbicara tentang-Mu.