20/04/2017

Memilih Engkau

 

Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. - Filipi 3:8

 

Saya punya pengalaman dengan sentuhan dan mendengar suara Allah, tapi beberapa teman Kristen saya keberatan menyebut pengalaman itu sebagai bagian dari kehidupan Kristen (saya heran—bukankah Alkitab adalah kumpulan pengalaman berbagai orang dengan Allah?—tapi waktu itu pernyataan itu saya dengar di mana-mana dan saya jadi berpikir sendiri). Dan ketegangan antara apa yang Allah sebenarnya lakukan dalam hidup saya dan apa yang Dia lakukan atau tidak lakukan, semakin memuncak. Ada waktu saya harus memutuskan apakah saya akan mengikuti Dia atau mengikuti tradisi, asumsi manusia yang melihat pengalaman di Alkitab sebagai sebuah pengecualian, bukan contoh. Saya memilih Dia. “Tuhan, aku tidak peduli apa yang orang lain pikirkan. Mungkin aku salah. Mungkin aku tersungkur. Mungkin aku akan dipermalukan di hadapan semua orang yang aku kenal. Tapi aku akan mengejar Engkau—dengan sepenuh hati. Dan aku percaya Engkau akan memimpin aku, mengoreksi aku, dan mendukungku dengan cara-Mu.”

 

Sejak saat itu, Hadirat Allah meningkat. Saya membaca Alkitab dengan cara baru, dan tokoh-tokoh, kisah dan kebenaran Alkitab menjadi semakin jelas dan semakin jelas. Saya menerima peneguhan demi peneguhan bahwa pilihan saya benar dan banyak dari asumsi masa lalu saya salah. Allah membimbing saya dalam cara yang baru, menyenangkan dan Alkitabiah.

 

Allah menghargai mereka yang melupakan dirinya sendiri dan mengejar-Nya—mereka yang mau melepaskan setiap ikatan untuk mengikuti pimpinan-Nya, dan mengejar Dia tanpa takut terlihat bodoh atau dikritik orang sekelilingnya. Ya, Dia mengharapkan kepekaan dari mereka dan Dia akan mengoreksi mereka yang berjalan di arah yang salah; tapi Dia juga menghargai mereka yang tidak mau kerinduannya mengejar Allah dipadamkan oleh introspeksi diri yang berlebihan. Dia menunjukkan diri-Nya pada mereka yang berfokus pada-Nya.

 


 

Tuhan, aku memilih Engkau. Aku lelah dengan prinsip agamawi, tradisi, dan asumsi tentang apa yang akan Engkau lakukan atau tidak lakukan. Aku membuka diriku pada apapun yang akan Engkau lakukan dalam hidupku—apapun, tidak peduli seaneh apapun—selama itu sesuai dengan karakter dan tujuan-Mu.